Gereja Perlu Mendampingi Anak Berkebutuhan Khusus

Agustinus Kris Widianto (paling kanan)
Kolasi atau pertemuan para imam dan perwakilan Dewan Paroki se Kevikepan Surakarta, Keuskupan Agung Semarang (KAS) bulan Maret ini diadakan di Gereja Santo Paulus Kleco, Surakarta, Rabu (22/3/2017).

Dalam kolasi ini ditampilkan dua nara sumber, yaitu Tim Bedah Rumah Paroki Santa Maria Bunda Kristus Wedi, Kabupaten Klaten dan penggiat anak berkebutuhan khusus (ABK) di Surakarta, 
Dalam paparannya, pendiri Yayasan Pangon Utomo Surakarta ini menyampaikan sharing karya mengenai bagaimana mencintai anak-anak berkebutuhan khusus.

Anak berkebutuhan khusus dapat dikelompokkan ke dalam: satu, gangguan pada panca indera (penglihatan, pendengaran) dan fisik (ketidaklengkapan atau gangguan motorik). Dua, gangguan kognisi (cognition disability atau retardasi mental). Tiga, gangguan perilaku (ADHD, ADD, autis). Dan empat, kesulitan belajar spesifik (diseleksia, disgrafia, diskalkuli, disfasia, disfragsia, indigo).
Dalam banyak kasus, anak yang dilahirkan dengan operasi Caesar, pada umumnya temperamental, mudah marah, dan sensitif. Karena ketika lahir, bayi tersebut “terisap”. Akibatnya, ada syaraf-syaraf afeksi, refleksi yang terganggu oleh jalan (proses) lahir. Sedang bayi yang lahir karena di-vacum, sering mengalami sulit bicara, sulit berhitung, sulit menirukan gerakan, dan sebagainya.

Menurut warga Kampung Ngadisono RT 01 RW 14, Kadipiro, Surakarta ini, anak yang berkebutuhan khusus juga harus menerima pendidikan khusus. Karena itu, pertama, proses pembelajaran (harus) dengan melibatkan seluruh modalitas sensorik dan melatih motorik. Kedua, tujuan akhir proses belajar disesuaikan dengan kemampuan optimal anak yang dapat dicapai (mampu didik maupun mampu latih). Ketiga, dilakukan upaya untuk penanganan terhadap faktor penyerta (baik neurologis maupun kejiwaan). Dan keempat, penanganan (harus) multi disiplin.

“Karena itu, Gereja juga perlu melakukan pendampingan secara khusus terhadap anak yang berkebutuhan khusus ini,” pesannya.


Terkait, Vikaris Episkopalis (Vikep) Surakarta Rama Antonius Budi Wihandono, Pr mengatakan, apa yang dilakukan oleh Agustinus Kris Widianto ini sesuai dengan Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang (RIKAS) yaitu terwujudnya peradaban kasih dalam masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman. “Hal ini juga sesuai dengan Arah Dasar KAS, dan tema Aksi Puasa Pembangunan (APP) KAS, yakni Aku Pelopor Peradaban Kasih,” kata rama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar