Perarakan Minggu Palma Pagi, Mengapa Sepi?

Perarakan Minggu Palma kali ini terasa sepi
Misa Minggu (9/4/2017) Palma pagi diawali dengan perarakan dari halaman Selepan (penggilingan padi) Makmur ke Gereja Wedi. 

Sebagian umat dengan penuh kesadaran mengikuti prosesi perarakan ini. Namun, sebagian umat lainnya lebih memilih langsung ke Gereja Wedi. Mengapa? 

Dalam kotbah singkat di Selepan Makmur, Rama Supranowo menyampaikan, perarakan Minggu Palma pagi kali ini diadakan di selepan. “Maka, seperti padi, kita juga siap “diselep” untuk kebahagiaan sesama. Padi dari sawah, dibawa ke sini, diler, dipepe, terus diselep. Seperti biji (padi) yang jatuh di tanah dan harus mati. Begitu pula kita. Sebab kalau tidak “mati”, kita tidak akan menghasilkan buah,” kata rama.

Rama Supranowo mengajak umat untuk meneladan para murid yang mengantar Yesus masuk ke Yerusalem. Umat juga diajak untuk ikut bersorak-sorai: Hosana Putra Daud. 

“Memasuki Yerusalem, Yesus naik keledai, bukan kuda. Ini melambangkan bahwa Yesus adalah raja yang rendah hati dan lemah lembut. Dia tidak menggunakan senjata atau kekerasan. Tetapi dengan kelemahlembutan. Ini (harusnya) menjadi teladan bagi hidup kita,” pesan rama.

Perarakan Minggu Palma pagi itu berlangsung biasa-biasa saja. Terkesan ameng, sepi, kurang greget. Umat juga kurang antusias mengikuti perarakan. Sebagian umat malah lebih memilih langsung menunggu di gereja. 

Ini semestinya menjadi catatan bagi panitia Pekan Suci dan Dewan Paroki. Fenomena ini bisa menjadi bahan pertimbangan tersendiri untuk pelaksanaan Minggu Palma mendatang. 
Apakah umat sudah tidak tertarik dengan perarakan Minggu Palma (dari Selepan Makmur)? Apakah umat memang sudah tidak mau “rekoso” sejenak untuk merasakan dan menghayati kisah sengsara Tuhan Yesus? Seiring dinamika zaman, umat Paroki Wedi nampaknya semakin pragmatis dan etungan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar