Paskah: Yang Dingin Menjadi Hangat, Yang Mati Hidup Kembali

Suasana Paskahan bersama Trah Paulus Yoso Suwito, Selasa (18/4/2017) malam
Keluarga besar atau Trah Paulus Yoso Suwito menggelar Paskahan bersama umat Lingkungan Santo Agustinus Tosadu yang diadakan di rumah G Eko Heri T di Dukuh Pundung, Desa Towangsan, Kecamatan Gantiwarno, Selasa (18/4/2017) malam. 

Misa Syukur Paskahan bersama ini dipimpin oleh Rama Yusuf Gunarto SMM (Serikat Maria Monfortan atau Missionaries of the Company of Mary), pastor Paroki Santa Maria Fatima Brebes, Jawa Tengah. Rama Yusuf Gunarto adalah bagian dari Trah Paulus Yoso Suwito. 

Paskahan bersama ini dihadiri oleh umat Lingkungan Santo Agustinus Tosadu, Paguyuban Timbalan Paroki Wedi, Paduan Suara Lentera Kasih paroki Wedi, dan undangan lainnya. Tema Paskahan bersama ini adalah “Kami siap menjadi pelopor budaya kasih”.

Dalam homili, Rama Yusuf Gunarto SMM menyampaikan, Paskah adalah perayaan syukur atas rahmat kebangkitan Tuhan. Paskah senantiasa membicarakan dari kematian menuju kehidupan. 

“Salah satu tanda kehidupan itu ada kehangatan. Sebab, orang yang sudah mati, pasti badannya terasa dingin. Maka, Paskah yang kita rayakan itu seharusnya menghangatkan relasi kita yang selama ini “dingin”, baik itu relasi di keluarga, lingkungan, komunitas, dan sebagainya. Makna rahmat Paskah adalah: yang dingin menjadi hangat, dan yang mati menjadi hidup kembali,” katanya.

Imam yang sudah 27 tahun hidup membiara ini mengajak umat untuk belajar dari cara hidup jemaat perdana, yaitu bersekutu atau berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa. Maka sekarang, umat juga perlu untuk senantiasa berdoa dan merayakan Ekaristi. 

Rama yang sebelumnya menjadi bruder ini menjelaskan, ada sejumlah tipe umat Katolik. Pertama, tipe penyangga. Umat ini adalah “penyangga” Gereja. Ia bekerja atau melakukan sesuatu dengan tidak punya pamrih. Mottonya: sepi ing pamrih, rame ing gawe. Ia sangat mencintai Gereja. Kedua, tipe spesial. Umat ini selalu siap membantu keperluan Gereja, tetapi ia tidak pernah berdoa. Ia punya hati, tenaga, pikiran , dana, dan lain-lain, tetapi tidak punya waktu untuk berdoa. 

Ketiga, tipe butuh. Umat ini ke gereja kalau mau butuh. Misalnya, mau menerima Komuni pertama, mau menikah, mau meninggal, dan sebagainya. Keempat, tipe spon atau busa. Umat ini maunya hanya “menyerap” saja. Ia tidak mau memberikan atau menyumbang sesuatu untuk Gereja. Ia tidak mau urun. Ia hanya ingin menuntut haknya sendiri. Meski begitu, umat dengan tipe spon ini harus tetap dilayani. 

Kelima, tipe napas. Umat ini baru “kelihatan” hanya pada saat Natal dan Paskah. Saking ironisnya, umat ini datang ke gereja hanya untuk melihat-lihat, bukan untuk sembahyang atau berdoa. Dan keenam, tipe perusak. Umat ini senangnya hanya ngrasani (rama-ne, prodiakon-e, pengurus lingkungan-e, dan lain-lain). Ia tidak senang kalau suasana Gereja itu “ayem” dan damai. Ia maunya tampil di depan, karena ia merasa sudah lama mengabdi dan berjasa bagi gereja.

Usai Misa, dilakukan ramah tamah yang diisi dengan hiburan dan pengundian tanda hadir (doorprize) serta diakhiri dengan makan bersama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar